anirahmawatidewi.blogspot.com Ketika seseorang berbuat kesalahan yang sama berulang-ulang 4-5 minutes Pernah dengar ungkapan, 'Air Susu Dibalas dengan Air Tuba'? Pernah bebuat baik ke orang lain, tapi justru orang tersebut berbuat buruk ke kita? Apa yang sebaiknya kita lakukan jika seseorang berbuat kesalahan kepada kita? Memaafkannya? Yup. Tapi kalau dia mengulang kesalahan yang sama berkali-kali, berulang-berulang, terus-menerus kepada kita padahal kita sudah berbuat baik padanya? Apa yang biasanya kita lakukan? "Ah, aku tidak mau memaafkannya lagi. dia sudah berulang kali melakukan kesalahan ini. Biar saja. Biar dia tahu rasa. Biar dia dapat pelajaran." Nah, yang kayak begini baik nggak? Betulkah sikap orang yang tidak mau memaafkan orang lain untuk memberi pelajaran? Mungkinkah orang yang melakukan kesalahan kepada kita secara berulang-ulang tanpa seijin Allah? Sebagaimana yang terdapat dalam surat At Taghaabun : 11. " Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. " Tentunya Allah mempunyai maksud untuk kita dengan mengijinkan orang tersebut melakukan kesalahan yang sama berkali-kali kepada kita. Katakanlah kita seorang tukang servis mesin cuci. Ada orang yang menserviskan mesin cucinya kepada kita. sudah kita perbaiki. besoknya dia datang lagi ke kita dan bilang kerja mesin cucinya kurang optimal. maka dia ingin kita memperbaikinya lagi. NAh, nerarti dia percaya sama kita, dia ngasih kepercayaan kepada kita untuk memperbaiki mesin cucinya lagi. memberi kesempatan ke kita untuk meningkatkan kualitas servis kita. kalau ia malah datang ke tukang servis lain, berarti dia tidak percaya pada kita. Nah, Allah juga ingin kita memperbaiki kualitas memaafkan kita. Dengan cara menghadirkan seseorang yang melakukan kesalahan yang sama kepada kita. Bisa jadi kemarin2 saat kita memaafkannya, ada yang kurang. Mungkin kurang ikhlas, mungkin karena tidak ingin dibilang jahat, dll. Saat ada orang lain yang berbuat kesalahan ke kita ada dua pilihan cara yang bisa kita lakukan. Pertama, memaafkan disertai ancaman. "Kali ini saya maafkan, tapi lain kali kalau melakukan ini lagi, awas aja." nah, yang seperti ini berarti sebenarnya kita belum memaafkannya. Kedua, Memaafkan tanpa syarat. Memaafkan setulus-tulusnya. Allah melihat ketulusan kita. Buahnya? Orang yang berbuat buruk ke kita menjadi orang yang sangat baik ke kita. Mengubah kebencian menjadi cinta. Teringat sebuah kisah..... Seorang suami yang senantiasa berbuat baik kepada istrinya meskipun istrinya selalu membalasnya dengan keburukan. Sampai saat sang suami meninggal, sang istri baru bisa mencintainya. Itulah kebaikan yang tulus. Kebaikan yang secara terus menerus diberikan meski dibalas dengan keburukan. Kebaikan tanpa pamrih. Kebaikan yang merubah benci menjadi cinta. "Ya Allah, inilah caramu menguji tulusnya cinta yang kuberikan pada istriku. Ya Allah inilah caramu supaya aku memperbaiki kualitas cintaku pada istriku." Sebagaimana ketika disakiti. Mengertilah. Allah menghadirkan orang yang terus menyakiti kita agar kita meningkatkan kualitas kebaikan kita pada orang tersebut. Teringat pula dengan kisah seorang sahabat yang masuk surga karena amalnya yang senantiasa lapang memaafkan semua kesalahan orang2 padanya. sungguh kita tak tahu amalan mana yang bisa membawa kita ke surga diri ini pun masih sangat sulit mengaplikasikan ilmu lapang untuk memaafkan semoga kita senantiasa diberi kesempatan untuk bisa merasakan nikmatnya memaafkan mengambil hikmah disetiap kejadian memperoleh kebaikan disetiap apapun yang terjadi pada diri kita